kaos sinlands
nie disignnya…


“kami adalah jiwa-jiwa tidak terkalahkan…”
Slemania sebagai sebuah organisasi supporter setia PSS Sleman tentunya akan selalu mengawal perjuangan tim berjuluk Super Elang Jawa. Dengan anggota kurang lebih 12.000 ribu orang, tersebar di 10 Korwil di DIY dan beberapa Korwil di luar DIY,seperti Jabodetabek (Jakarta dst), Surabaya, Magelang,Wonosobo, Lampung, Bali,dll. Hal tersebut membuktikan eksistensi dari loyalitas SLEMANIA sebagai suporter PSS Sleman. Pada perkembangannya Sepak Bola Indonesia berusaha menuju ke arah yang lebih baik, dengan ditandai dengan perubahan bentuk dan format kompetisi. Dari kompetisi yang kurang memperhatikan fakator pembianaan, profesional,dll. Menuju era sepak bola Indonesia yang modern, dengan syarat-syarat yang mau tidak mau harus diikuti oleh klub peserta liga. SLEMANIA sebagai suporter PSS Sleman juga ingin memberikan kontribusi bagi klub kebanggaannya PSS Sleman,hal tersebut direpresentasikan dengan masis tetap eksis nya SLEMANIA sebagai suporter PSS Sleman sampai kapan pun. Untuk membuktikan eksistensinya serta merupakan amanah dari AD/ART SLEMANIA dalam setiap Periode kepengurusan yaitu ( 3 Musim Kompetisi Penuh), maka SLEMANIA bermaksud mengadakan mekanisme tertinggi di organisasi guna melakukan pergantian kepengurusan SLEMANIA periode sebelumnya. Menindak lanjuti dari proses tersebut maka terbentuklah Tim Formatur Musyawarah Besar Anggota SLEMANIA dan kemudian tim tersebut juga membentuk Panitia Pelaksana Musyawarah Besar Anggota SLEMANIA yang berisikan perwakilan unsur-unsur di Keluarga Besar SLEMANIA yaitu,Pengurus Pusat,Slemanona,Bala Slemania,Korwil, dan Website. Selanjutnya Panitia Pelaksana menetukan tahapan/proses pelaksanaan MUBESTA tersebut dari Proses heregrestasi (regestrasi ulang) Laskar Slemania,Penjaringan Bakal Calon Ketua dan Wakil Ketua yang diusulkan oleh Korwil Slemania,Verifikasi data, Pengumuman Bakal Calon, sampai dengan pelaksanaan MUBESTA yang nantinya akan dilaksanakan pada hari minggu, tanggal 16 Agustus 2009,bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, dari jam 08.00 Wib – sampai dengan selesai. Atas nama panitia pelaksana MUBESTA kami meminta partisipasi seluruh kawan-kawan SLEMANIA untuk dan demi susksesnya rangkaian acara dan kegiatan tersebut diatas, atas perhatiannya kami ucapakan terim kasih.
“ Jangan pernah lelah mendukung PSS Sleman…”
Save Our Pss
PSS Sleman, adalah sebuah tim sepakbola dari Kab. Sleman yang sudah mempunyai nama dan mempunyai debut yang dibilang sukses di dunia persepakbolaan Indonesia, bersama Fans Clubnya yang bernama Slemania yang pernah dianugerahi sebagai Suporter Terbaik pada tahun 2005, PSS Sleman melaju sebagai kuda hitam yang mampu secara mengejutkan mengkandaskan tim tim kelas atas Indonesia, seperti Persija Jakarta, Arema malang, Persik Kediri, PSMS Medan, dan bahkan pada Liga Indonesia tahun 2007, Sriwijaya FC harus merasakan hajaran PSS Sleman sebelum mereka menggendong Piala Liga dan Piala Copa sekaligus.
Siapa yang tidak tahu, pemain yang pernah dibawah bendera PSS adalah pemain yang kini menjadi bintang di Indonesia, lihat saja dari senior, Siapa yang tidak mengenal Kurniawan Dwi Yulianto, Rocky Putiray, Seto Nurdiantoro, Joice Sorongan, Marcello Braga, Jaldecir ‘Deca’ Dos Santos hingga kini bintang muda Indonesia Musafri. Dan kini dengan diperkuat Jaenal Ichwan, Abda Ali, Sahari Gultom, dan palang pintu Peter Lipede, siap untuk meramaikan sepakbola Indonesia.
Sejak Liga Indonesia berubah format, bertambah Liga Super sebagai Link tertinggi Liga Indonesia, yang otomatis mendegradasi satu divisi termasuk PSS Sleman. Ditambah dengan Keputusan Menteri Dalam negri yang kurang populer yaitu melarang penggunaan APBD untuk sepabola, semakin menyulitkan nafas tim2 di Indonesia termasuk PSS Sleman sebagai tim plat merah, yang mengharuskan dalam waktu singkat, yaitu kurang dari 1 tahun berubah sebagai tim profesional dengan persyaratan yang begitu berat, sebagai konsultan bisnis, saya sangat setuju bila PSS menjadi tim yang profesional dengan berkaca dengan tim2 top Eropa, tetapi dengan waktu yang sangat singkat ……. ITU HANYA SUATU MIMPI, langkah itu hanya membuat minimal tim seperti PSS layu dan akhirnya mati.
Dengan kesulitan yang harus dilalui, PSS dan managemen berusaha dengan susah payah untuk tetap hidup di 2 liga, yaitu Liga Indonesia (Divisi Utama) dan Liga Copa Indonesia, menjadi sangat semakin sulit dibenturkan dengan kesulitan mendapatkan sponsor dikarenakan tidak adanya daya jual Tim yang tergabung Divisi nomor 2 di negara ini. Belum adanya selera untuk berbisnis dalam managemen tim2 seperti PSS dan kondisi sepabola Indonesia yang memang tidak bisa menjual tim2 peserta liga.
Pendapatan yang berasal dari bantuan dari Pemda Sleman dan bantuan dari pengusaha lokal, tidak bisa mencukupi jalannya roda Klub yang operasionalnya sangat besar, apalagi pemasukan dari penjualan tiket kurang menutup pos2 yang sangat penting. Kurangnya peduli Suporter, yang sebenarnya aset yang sangat berharga bagi suatu klub, sangatlah disayangkan. Mencontoh dari klub2 besar Eropa, dikala dirundung kerugian yang mengharuskan mereka melakukan langkah2 yang kurang populer, seperti Bayern Munchen, Napoli, AS Roma bahkan Manchester United, seharusnya Slemania mempunyai langkah yang dibilang strategis untuk membantu klubnya, yang bisa dikatakan sebagai identitas dan harga diri mereka.
jadi apa langkah kita untuk membantu PSS, apakah hanya menunggu bantuan dari luar atau meninggalkan PSS ? Sebagai pemuda yang seharusnya mempunyai ide2 yang inovatif dan kemampuan serta kemauan yang masih tinggi, Slemania seharusnya mempunyai ide2 yang cemerlang untuk membantu, setidaknya menunjukkan rasa memiliki yang tinggi terhadap klubnya, so …. Save Our Pride … Save Our Soul …. Save Our PSS ….
Militansi tai anjink!
“kuwi kan kalimat sik gawe aku… asyeeemmmm” kata seorang teman setelah membaca sebuah artikel di salah satu web suporter. “WTF! Opo maksudte, gawe artikel koyo ngono kuwi?” tambahnya. “Militansi tai anjink” Sebuah kalimat yang dia buat saat mengisi GB di website ini “anti north-curve movement a.k.a miltansi tai anjing”… postingan di GB ini dia buat setelah tim kebanggannya PSS Sleman kalah dari Persema malang 4-1. Postingan kekecewaan, postingan sebuah emosi seorang suporter. Sebuah wacana yang coba ditampilkan di GB untuk memancing reaksi suporter lain tentang sebuah arti militansi, ternyata memang benar, banyak postingan lain yang mengikutinya.
Suporter yang kemudian berbalik mendukung tim lawan bukan berarti tidak mempunyai loyalitas, mungkin loyalitas mereka melebihi yang lain, disaat hujan deras, disaat semangat tim menghilang disaat tim tertinggal dari lawan, mereka tetap bernyanyi walaupun bernyanyi mendukung tim lawan, disana terlihat semangat tinggi menggebu, semangat kecintaan, semangat ketidakpuasan, semangat emosi, semangat seorang suporter, bagiku itu tetap merupakan sebuah militansi, loyalitas tanpa batas, dan memang seharusnya seperti itulah sebuah suporter. “Ini merupakan sebuah bentuk shock-therapy kepada tim kami, ini cara kami, ini aksi kami dalam mendukung PSS, kami masih loyal, dan kami tidak akan meninggalkan tim ini bagaimanapun keadaanya, kami cinta PSS” kata seorang suporter di kurva utara. Dan “shock-therapy” seperti ini lebih dasyat untuk mendongkrak semangat tim saat ketinggalan dari tim lawan, daripada sebuah nyanyian dan gerakan….
Di eropa “shock-therapi” yang dilakukan oleh suporter tidak hanya sebuah nyanyian berbalik mendukung tim lawan, bahkan hujatan dan makian kerap terdengar di dalam stadion. Ancaman pembunuhan ke pemain-pun banyak dilakukan oleh suporter beraliran garis keras hanya untuk mendongkrak semangat juang pemain. Pelatih atau manajer yang mundur (bukan karena dipecat manajemen klub) biasanya adalah produk dari tekanan suporter garis keras. Dari pihak pemain, Christian “Bobo” Vieri pernah mengalami teror fisik dari suporter inter milan, termasuk dirusaknya salah satu properti bisnisnya, karena dianggap berkurang kadar loyalitasnya pada tim.
Jadi arti sebuah militansi tidak hanya dilihat dari sebuah teriakan dan nyanyian dalam mendukung tim dalam bertanding, tidak hanya dari kata-kata, tetapi militansi diukur dari tidakan. Bagaimana seorang suporter bisa mengubah keadaan tim untuk menjadi lebih baik “bagaimanapun caranya”.
Tidak hanya bernyanyi dan bergoyang, tetapi intimidasi dan aksi yang lebih dasyat akan selalu muncul dalam mendukung tim kebanggaan kami. Untuk mengubah tim kami menjadi lebih baik.
Sudah belasan bahkan puluhan stadion yang kami datangi untuk mendukung tim kami, dari ujung barat stadion Benteng tangerang di banten sampai di ujung timur stadion Pulau dewata bali pernah kami invasi. Kami sudah merasakan hujan batu di Semarang, sudah seperti pesakitan di stadion Siliwangi Bandung dengan adanya intimidasi dan lemparan air kencing, sudah pernah spot jantung di gelora 10 Novenber Surabaya karena dikejar-kejar bonek, sudah sering banner-banner dan bendera-bendera kami dibakar, kami sudah menempuh ribuan kilometer, menghabiskan ratusan ribu kalori dan jutaan detik waktu serta materi yang sudah tidak terhitung jumlahnya hanya untuk mendukung tim kebanggaan kami PSS Sleman. Kami sudah sering mengalami kekalahan di kandang sendiri atau kandang lawan, dan kamipun sudah sering mengalami ueforia kemenangan di kandang lawan. Hinaan, hujatan, pernah kami dengar. Bahkan sebutan suporter lonthe maupun suporter santri pernah pernah ditujukan ke kami. Kami pernah menjadi suporter terbaik, walaupun kami bukan yang terbaik, tapi kami akan mencoba menjadi suporter yang baik, walau itu sudah keluar dari mainstream sebuah suporter. Manis pahit menjadi suporter sudah kami rasakan.
Disini kubernyanyi hanya untukmu
Disini kuberlari mengawalmu
Walaupun hujan batu kutetap bersatu
Walupun caci maki kan menghampiri
Tekadmu slalu ada dalam nafasku
Semangatmu slalu ada dalam hidupku
Kepakkanlah sayapmu hancurkan musuhmu
Dan jayalah PSS Super Eljaku
Kemenangan slalu kunantikan
Bertarunglah demi kejayaan
Kami kan slalu mendukungmu
Berteriaklah “militansi tai anjink!” kepada kami karena militansi kami tidak akan kalah dari militansi kalian!
PRIDE PSS 1976
Pluralisme Suporter
PLURALISME SUPORTER
Football for Unity, tagline itu sering kita dengar dalam dunia persepakbolaan, dan memang sepakbola adalah sebuah ajang untuk persatuan. Menyatukan 11 orang yang mungkin berbeda jenis, warna kulit, untuk menjadikan sebuah kesebelasan yang solid untuk memperoleh hasil sebuah kemenangan. berbicara sepak bola tentu tidak lepas dengan penonton atau suporter. Tanpa suporter sepakbola akan terasa hambar. Dan Indonesia adalah salah satu negara yang Suporternya sangat antusias menyaksikan pertandingan Sepakbola yang dimainkan dinegeri ini.
Ada hal yang menarik bagi suporter indonesia. Loyalitas dan dukungan yang diberikan kepada tim sepak bolanya luar biasa. Dan ini sebenarnya modal penting bagi persepakbolaan kita. Hampir setiap daerah mempunyai sebuah Klub sepakbola, dan hampir setiap klub itu mempunyai kelompok suporter, bahkan bukan hanya satu ada beberapa kelompok suporter yang mendukungnya, Secara geografis yang memang berdekatan satu sama lainnya kadang ada sebuah “persaingan” kita sebut saja saja Jogja dan Solo, Jogja dan Sleman, Jakarta dan Bandung, Surabaya dan Malang, dan mungkin ada lagi. Entah faktor apa yang melatar belakangi persaingan antar daerah tersebut.
Yang menarik di indonesia ada seperti sebuah pengkotak kotakan suporter. Blok pertama di wakili dengan Aremania, Pasoepati, The Jak, kemudian yang lainnya Bonek, Viking, Sakera atau lebih dikenal dengan BONVISA. Suka atau tidak memang demikianlah sebenarnya Peta Persuporteran di Indonesia, dan ini membuat setidaknya Stagnasi dalam persepakbolaan kita. Misalnya Bonek bertandang ke Jogja Maka secara Geografis dia akan melewati Solo yang nota bene merupakan “kongsi” Arema dan The Jak dan secara tidak langsung potensi kerusuhan ada. Blok Blok inilah sebenarnya yang menghalangi sebuah kreatifitas suporter untuk mendukung tim – timnya. Tapi ada Suporter yang memang Tidak “tergabung” dalam blok besar itu, Slemania misalnya. Lalu kemudian Suporter semarang (dengan panser dan Snexnya) Lalu singa mania palembang. dan mungkin kelompok suporter lain. Bukan menyepelekan ketiganya dalam Jumlah atau apa sehingga mereka tidak masuk dalam 2 blok tadi akan tetapi memang kenyataan mereka tidak “berafiliasi” dengan blok – blok suporter tadi. Slemania Misalnya, mungkin memang dia bermusuhan dengan Brajamusti, tapi tidak dengan Bonek misalnya.
*) Hubungan Ruwet
Ketidakdewasaan suporter – suporter kita membuat ada semacam gap itu tadi. Padahal sebenarnya secara individu tidak ada permusuhan apa apa tapi ketidakdewasaan kita sering membuat permusuhan itu tetap dipelihara. Seorang Viking pernah bilang, “Anda (Pasoepati) berteman baik dengan The jak, silahkan. saya mengahargai itu karena yang “bermusuhan” adalah Viking dan the Jak. Begitu Pula anda dengan Bonek, Silahkan “bermusuhan” walaupun bonek adalah kawan kami. Pfffffhhhhhh…. Ruwet. Demikian sebuah kata yang bisa menyimpulkannya. Keruwetan Hubungan ini. Mungkin Keruwetan ini juga di tangkap oleh Andi Bahtiar Yususf dalam Film nya yang April nanti bisa kita nikmati di Bioskop. lewat Film Romeo*Juliet. Ucup mengangkat tema tentang percintaan Cewek Viking dan Cowok The jak. Seorang Rekan Wartawan pernah aku tanya Soal Status “ke-suporter-an” ini dan dia menjawab sambil tersenyum ” Aku lahir di bandung Berarti aku Viking, Kemudian Kuliah di Jogja Berarti aku brajamusti, lalu kerja di jakarta berarti aku The Jak, dan aku suka sleman berarti aku Slemania” Sebuah jawaban absurd yang mungkin memang seabsurd persepakbolaan dan dunia persuporteran kita.
Baju Suporter sudah dianggap agama bagi mereka yang loyal. dan demi apapun mereka rela membela “agamanya” tapi mereka lupa dalam bangsa yang beragama juga ada sebuah sikap yang disebut sebuah sikap Pluralisme, Tolerasi, dan sikap menghargai. lalu bisakah suporter kita mengahargai kata pluralisme itu tadi. Pluralisme di dalam agama adalah, bukan menyembunyikan Keislaman kita atau kekristenan kita, tapi pluralisme adalah Saya Islam, Anda Kristen , Kalian Hindu. Silahkan jalankan agama kalian masing masing dan mari kita tetap bekerja bersama, bergotong royong, tanpa mengusik ke agamaan kita masing – masing.
Silahkan nikmati Warna klub kalian masing masing, tapi jangan jadikan itu sebuah pelegalan untuk melakukan sebuah tindakan yang disebut dengan perpecahan. Aku bangga dengan hijau ku. Bagai mana dengan anda? Mari jadikan perpaduan warna tim kebangaan kita menjadi Sebuah pelangi cinta untuk kemajuan persepakbolaan Indonesia.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


